Banyak alasan kuat mengapa kita mulai dengan Doktrin tentang Allah, jika kita berangkat dari pengandaian bahwa teologi adalah pengetahuan sistematis tentang Allah, yang dari-Nya, oleh-Nya, melalui-Nya dan bagi-Nya segala sesuatu berada. Sebaliknya justru dogmatika harus dimulai dengan Doktrin Allah, bahkankita boleh berharap bahwa dogmatika secara keseluruhan adalah telaah tentang Allah.
Kristologi memperkenalkan kita kepada karya Allah yang obyektif untuk menjembatani jurang pemisah yang lebar itu, dan menyingkirkan jarak pemisah yang ada. Kristologi menunjukkan kepada kita bagaimana Allah datang pada manusia untuk menyingkirkan penghalang antara Alah dan manusia, dengan cara memenuhi syarat-syarat hukum di dalam Kristus, dan memperbaharui manusia agar dapat memasuki kembali p…
Soteriologi berkaitan dengan pelimpahan berkat keselamatan kepada orang berdosa dan pembaruan yang dialaminya berkenaan dengan kehendak Ilahi agar mereka dapat menikmati hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah.
Doktrin mengenai penerapan jasa-jasa Kristus mau tidak mau membawa kita kepada doktrin tentang gereja, sebab gereja terdiri dari orang-orang yang memiliki bagian dalam Kristus dan memiliki berkat-berkat keselamatan yang ada di dalam Dia.
Pertanyaan mengenai Eskatologi adalah pertanyaan yang wajar. Doktrin mengenai akhir jaman bukanlah sesuatu yang khusus milik agama kristen saja. Setiap kali manusia memikirkan kehidupan secara serius, baik dalam diri pribadi maupun kelompok bangsa, mereka bukan sekedar bertanya kapan hari itu akan tiba dan bagaimana terjadinya, tetapi juga apakah hal itu pasti.
Peralihan dari Teologi ke Antropologi, yaitu studi tentang Allah ke studi tentang manusia, adalah suatu peralihan yang wajar. Manusia bukan saja mahkota dari seluruh ciptaan allah, tetapi juga objek khusus pemeliharaan Allah. Doktrin tentang manusia harus segera mengikuti doktrin tentang Allah, sebab pengetahuan ini menjadi presuposisi semua doktrin lain dalam dogmatika.